Analisis Sumber dan Penggunaan Kas

Sifat Laporan Sumber Dan Penggunan Kas
Sifat laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja dalam periode tersebut, modal kerja meliputi seluruh aktiva lancar atau aktiva lancar dikurangi utang lancar.
Laporan perubahan kas (cash flow statement) atau laporan sumber dan penggunaan kas disusun untuk menunjkan perubahan kas selama satu periode dan memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukan dari mana sumber-sumber kas dan penggunaannya. Laporan sumber dan penggunaan kas menggambarkan atau menunjukan aliran atau gerakan kas, yaitu sumber-sumber penerimaan dan penggunaan kas dalam periode yang bersangkutan.
Penggunaan kas (laporan penggunaan kas) sifatnya atau scopenya lebih luas dari pada laporan laba rugi baik yang penyusunannya berdasarkan cash basis maupun accruals basis.
Laporan sumber dan penggunaan kas akan dapat di gunakan sebagai dasar dalam menaksir kebutuhan kas di masa mendatang dan kemungkinan sumber-sumber yang ada, atau dapat di gunakan sebagai dasar perencanaan dan peramalan kebutuhan kas atau cash flow di masa yang akan datang. Sedangkan bagi para kreditor atau bank dengan laporan sumber dan penggunaan kas akan dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar bunga atau mengembalikan pinjamannya.
Sumber Kas
Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal yang paling tinggi likuiditasnya, berarti semakin besar jumlah kas yang dimiliki oleh suatu perusahaan akan semakin tinggi pula tingkat likuiditasnya.
Sumber penerimaan kas dalam suatu perusahaan pada dasarnya dapat berasal dari:
a. Hasil penjualan investasi jangka panjang, aktiva tetap baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud (intangible assets), atau adanya penurunan aktiva tidak lancar yang diimbangi dengan penambahan kas.
b. Penjualan atau adanya emisi saham maupun adanya penambahan modal oleh pemilik perusahaan dalam bentuk kas.
c. Pengeluaran surat tanda bukti utang, baik jangka pendek (wesel) maupun utang jangka panjang (utang obligasi, utang hipotik, atau utang jangka panjang lain) serta bertambahnya utang yang diimbangi dengan penerimaan kas.
d. Adanya penurunan atau berkurannya aktiva lancar selain kas yang diimbangi denagn penerimaan kas pembayaran, berkurangnya persediaan barang dagangan karena adanya penjualan secara tunai, adanya penurunan surat berharga (efek) karena ada penjualan dan sebagainya.
e. Adanya penerimaan kas karena sewa, bunga atau dividen dari investasinya, sumbangan ataupun hadiah maupun adanya pengembalian kelebihan pembayaran pajak pada periode-periode sebelumnya.
f. Keuntunga dari operasi perusahaan, Apabila perusahaan memperoleh keuntungan neto dari operasinya berarti ada tambahan dana dari perusahaan yang bersangkutan
Penggunaan Kas
Adapun penggunaan atau pengeluaran kas dapat di sebabkan oleh adanya transaksi-transaksi sebagai berikut.
a. Pembelian saham atau obligasi sebagai investasi jangka pendek maupun jangka panjang serta pembelian aktiva tetap lainnya.
b. Penarikan kembali saham yang beredar maupun adanya pengembalian kas perusahaan oleh pemilik perusahaan.
c. Pelunasan pembayaran angsuran utang jangka pendek maupun utang jangka panjang.
d. Pembelian barang secara tunai, adanya pembayaran biaya opersi yang meliputi upah dan gaji, pembelian supplies kantor, pembayaran sewa, bunga, premi asuransi, advertensi, dan adanya persekot-persekot biaya maupun persekot pembelian.
e. Pengeluaran kas untuk pembayaran dividen (bentuk pembagian laba lainnya secara tunai), pembayaran pajak, denda-denda, dan sebagainya.
f. Adanya kerugian dalam operasi perusahaan. Terjadinya kerugian dalam operasi perusahaan dalam mengakibatkan berkurangnya kas atau menimbulkan utang yaitu bila diperlukan dana untuk menutup kerugian tersebut. Timbulnya utang sebenarnya merupakan sumber dana tetapi dana ini digunakan untuk menutup kerugian tersebut.
Laporan Sumber Dan Penggunaan Kas
Penyusunan laporan perubahan kas atau laporan sumber dan penggunaan kas dapat dilakukan dengan meringkas jurnal penerimaan kas dan jurnal pengeluaran kas. Cara ini memakan waktu yang lama karena harus menggolongkan setiap transaksi kas menurut sumber masing-masing serta tujuannya, dan cara ini hanya dapat dilakukan oleh internal analisis yang memungkinkan memperoleh datanya dengan lengkap dan masih murni.
Transaksi-transaksi yang tidak mempengaruhi uang kas antara lain sebagai berikut:
a. Adanya pengakuan atau pembebanan depresiasi, amortisasi dan deplesi terhadap aktiva tetap, intangible asset, dan wasting assets. Biaya depresiasi ini merupakan biaya yang tidak memerlukan pengeluaran kas.
b. Pengakuan adanya kerugian piutang baik dengan membentuk cadangan kerugian piutang maupun tidak, dan penghapusan piutang karena piutang yang bersangkutan sudah tidak dapat di tagih lagi.
c. Adanya penghapusan atau pengurangan nilai buku dari aktiva yang dimiliki dan penghentian dari penggunaan aktiva tetap karena aktiva yang bersangkutan telah habis disusut dan atau sudah tidak dapat dipakai lagi.
d. Adanya pembayaran stock devidend (dividen dalam bentuk saham), adanya penyisihan atau pembatasan penggunaan laba, dan adanya penilaian kembali (revaluasi) terhadap aktiva tetap yang dimiliki oleh perusahaan.
Langkah-Langkah Dalam Penyusunan Laporan Sumber-Sumber Dan Penggunaan Dana Dalam Aliran Kas.
Dalam menyusun laporan sumber-sumber dan penggunaan kas, dimana dana dalam artian kas memiliki langkah-langkah sebagai berikut :
a. Mendaftar pos-pos neraca yang diperbandingkan antara dua titik waktu tertentu dalam kolom pertama dan kedua.
b. Mendaftar pos-pos laporan laba rugi dari tahun yang diperbandingkan (current year).
c. Tentukan kenaikan dan penurunan yang terjadi pada pos-pos neraca, tunjukkan dalam kolom ”Perubahan” debit dan kredit. Kolom perubahan debit untuk mencatat adanya kenaikan aktiva, penurunan utang dan modal serta bertambahnya biaya serta berkurangnya penhasilan. Sedangkan kolom kredit untuk mencatat penurunan aktiva, kenaikan utang dan modal, bertambahnya penghasilan dan berkurangnya biaya.
d. Menganalisis perubahan-perubahan yang terjadi pada pos-pos neraca dan pos-pos laba rugi untuk menentukan adanya perubahan yang tidak mempengaruhi kas.
e. Membuat jurnal penyesuaian dalam lembar kerja tersebut untuk menghilangkan akibat atau pengaruhtransaksi nonkas yang sudah dicatat dalam periode tersebut.
f. Memindahkan saldo atau perubahan setelah disesuaikan (kecuali perubahan kas) Ke dalam kolom “Kenaikan dan Penurunan Kas” atau “Sumber dan Penggunaan Kas”.
g. Untuk penyusunan laporan sumber dan penggunaan kas datanya diambil dari dua kolom terakhir dari lembar kerja.

BEP

Pengertian BEP
Break Even point atau BEP adalah suatu analisis untuk menentukan dan mencari jumlah barang atau jasa yang harus dijual kepada konsumen pada harga tertentu untuk menutupi biaya-biaya yang timbul serta mendapatkan keuntungan / profit.
Syarat-syarat Analisis BEP
1. Harga jual tidak berubah-ubah.
2. Seluruh biaya dapat dibagi ke dalam biaya tetap dan biaya variabel.
3. Biaya variabel bersifat proposional.
4. Jika barang yang diproduksi lebih dari satu jenis, maka komposisi barang yang dijual tidak berubah-ubah.
Manfaat BEP
1. Sebagai alat perencanaan untuk menghasilkan laba.
2. Memberikan informasi mengenai berbagai tingkat volume penjualan, serta hubungannya dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan.
3. Mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan.
4. Mengganti sistem laporan yang tebal dengan grafik yang mudah dibaca dan dimengerti.
5. Mengetahui jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
6. Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.
7. Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi.
8. Untuk mengetahui bagaimana efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan terhadap keuntungan yang diperoleh.
Kelemahan BEP
1. Dalam usaha yang dirintis, kompenen yang berperan disini yaitu biaya, dimana biaya yang dimaksud adalah biaya variabel dan biaya tetap, dimana pada prakteknya untuk memisahkannya atau menentukan suatu biaya itu biaya variabel atau tetap bukanlah pekerjaan yang mudah.
2. Hanya ada satu macam barang yang diproduksi atau dijual. Jika lebih dari satu macam maka kombinasi atau komposisi penjualannya (sales mix) akan tetap konstan. Jika dilihat di jaman sekarang ini bahwa perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya mereka menciptakan banyak produk jadi sangat sulit dan ada satu asumsi lagi
yaitu Harga jual persatuan barang tidak akan berubah berapa pun jumlah satuan barang yang dijual atau tidak ada perubahan harga secara umum. Hal ini demikian pun sulit ditemukan dalam kenyataan dan prakteknya.
Jenis – Jenis Biaya dalam Menghitung BEP
1. Variabel Cost (biaya Variabel)
Variabel cost merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan, dimana perubahannya tercermin dalam biaya variabel total. Dalam pengertian ini biaya variabel dapat dihitung berdasarkan persentase tertentu dari penjualan, atau variabel cost per unit dikalikan dengan penjualan dalam unit.
2. Fixed Cost (biaya tetap)
Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap dan tidak terpengaruh oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu(function of time) sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Contoh biaya sewa, depresiasi, bunga. Berproduksi atau tidaknya perusahaan biaya ini tetap dikeluarkan.
3. Semi Varibel Cost
Semi variabel cost merupakan jenis biaya yang sebagian variabel dan sebagian tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed cost. Biaya yang tergolong jenis ini misalnya: Sales expense atau komisi bagi salesman dimana komisi bagi
Rumus BEP
Untuk menghitung BEP kita bisa hitung dalam bentuk unit atau price tergantung untuk kebutuhan.
Atas dasar unit
BEP unit : FC / ( P – VC )
Atas dasar sales dalam rupiah
BEP rupiah : FC / ( 1 – ( FC / P ))

Keterangan:
FC : Biaya Tetap
P : Harga jual per unit
VC : Biaya Variabel per unit
Contoh Soal :
Misalnya ada perusahaan konveksi kaos kaki murah yang harga satu buah kaos kaki adalah Rp. 10.000 dengan biaya variabel sebesar Rp. 5.000 per kaos kaki dan biaya tatap sebesar Rp. 10.000.000
BEP = 10.000.000 / (10.000 – 5.000)
BEP = 20.000
Jadi diperlukan memproduksi 20.000 kaos kaki untuk mendapatkan kondisi seimbang antara biaya dengan keuntungan alias profit nol.
Setelah kita mengetahui betapa manfaatnya BEP
Untuk menghitung BEP kita bisa hitung dalam bentuk unit atau price tergantung untuk kebutuhan
Perbedaan Antara BEP dan ROI
Kebanyakan orang menyamakan istilah BEP ini dengan ROI (Return On Investment). Padahal kedua istilah ini sama sekali berbeda. Penggunaan kedua istilah ini sanga penting untuk diperhatikan, apalagi jika menyangkut perjanjian bisnis. Contohnya jika hendak membeli sebuah unit Franchise (waralaba), perlu diperhatikan dan ditanyakan kepada Franchisor jika ada tercantum istilah BEP dan ROI didalam sebuah penawaran / perjanjian bisnis, supaya tidak terjadi kesalahpahaman karena adanya misintepretasi.
Dalam istilah bisnis, ROI (Return On Investment) adalah total nilai biaya yang diinvestasikan (ditanamkan pada sebuah bisnis) telah kembali, yang berasal dari akumulasi keuntungan setiap bulannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebenarnya istilah ROI ini mengacu kepada istilah “balik modal“. Misalnya kita tertarik membuka usaha Grosir Pakaian di Tanah Abang, untuk membuka usaha tersebut perlu biaya 300 juta (sewa tempat 200 juta / tahun, stok pakaian 100 juta), yang disebut ROI adalah jika 300 juta yang kita keluarkan tadi sudah kembali utuh ke tangan kita (dari akumulasi keuntungan).
Sedangkan istilah BEP (Break Even Point) adalah titik waktu dimana biaya operasional bulanan sama banyak dengan pendapatan total bulan tersebut, disini posisi keuangan mendapat keuntungan sebesar NOL, tetapi tidak nombok maupun untung.
Dengan demikian, BEP kemungkinan dapat dicapai dalam waktu lebih singkat daripada ROI, bisa jadi BEP dicapai dalam hitungan bulan, tetapi ROI kemungkinan dicapai setelah bertahun-tahun berbisnis.
Margin Of Safety
Keterangan-keterangan yang diperoleh waktu perhitungan BEP akan memberikan keterangan tambahan yang berguna bagi pimpinan perusahaan. Diantara keterangan tambahan tersebut adalah keamanan atau Margin Of Safety.
Menurut Syafaruddin Alwi (1994 :276), Margin of safety adalah untuk menentukan berapa jauhkah berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak menderita rugi.
Sedangkan menurut Bambang Riyanto (1995 : 366) Margin Of Safety merupakan angka yang menunjukkan jarak antara penjualan yang direncanakan atau di budgetkan (budget sales) dengan penjualan pada break event. Dengan demikian maka Margin Of Safety adalah juga menggambarkan batas jarak, dimana kalau berkurangnya penjualan akan melampaui batas jarak tersebut, perusahaan akan menderita kerugian. dengan demikian rumus yang digunakan dalam Margin Of Safety adalah :
Tingkat Penjualan yang dibudgetkan – Tingkat penjualan BEP
MS = X 100 %
Tingkat penjualan yang dibudgetkan

Perputaran Modal Kerja

Rasio keuangan yang dijadikan sebagai tolok ukur likuiditas suatu perusahaan adalah rasio keuangan rasio lancar atau current ratio. Dengan membandingkan besarnya nilai aktiva lancar dengan pasiva lancar dapat diperoleh gambaran mengenai kemampuan perusahaan dalam memenuhi pembayaran atas kewajiban jangka pendek suatu perusahaan. Berdasarkan pada hal tersebut, maka dalam literature banyak yang mengatakan dalam hal rasio lancar yang tidak lebih dari 2,0 dari segi kepentingan para kreditur jangka pendek sudah bias dianggap cukup aman. Dengan kata lain, pernyataan tersebut ditinjau dari segi likuiditas badan usaha, perusahaan yang memiliki rasio lancar sebesar 2 bisa dikatakan cukup stabil.
Untuk suatu perusahaan, terpenuhinya tuntutan likuiditas badan usaha yang cukup tinggi, masih tidak cukup. Selain pemimpin perusahaan harus menjaga kelancaran pembayaran hutang jangka pendeknya, ia juga harus menjaga kelancaran kegiatan perusahaan sehari – hari tidak terganggu kelancarannya.
Berarti, selain harus menjaga likuiditas badan usaha, pemimpin perusahaan harus menjaga likuiditas perusahaan juga. Dalam hal tingginya rasio lancar yang diperlukan agar terpenuhinya likuiditas badan usaha tidak sama dengan yang diperlukan untuk menjaga likuiditas perusahaan, maka perusahaan harus memilih yang paling tinggi antara kedua macam likuiditas tersebut.
Penggunaan rasio lancar yang disertai dengan penggunaan rasio keuangan, rasio keuangan pendukungnya sebagai tolok ukur likuiditas badan usaha, sekiranya dapat mecukupi.
Tetapi jika digunakan untuk tolok ukur likuiditas perusahaan, tolok ukur yang lebih diseyogyakan penggunaannya adalah rasio keuangan perputaran modal kerja.
Alasan – alasannya antara lain :
a. Dalam rumus rasio lancar sama sekali belum dimasukkan besarnya kegiatan sahari – hari perusahaan. Pada perputaran modal kerja, unsur tersebut diwakili oleh angka hasil penjualan.
b. Rasio tingginya berubah – ubah. Begitu perusahan menerima pinjaman jangka pendek misalnya dari bank, dari para levansir atau dari sumber lainnya, rasio lancar menjadi meningkat. Untuk kejadian sebaliknya adalah saat perusahaan melunasi seluruhnya atau sebagian hutang jangka pendeknya, rsio lancar akan menurun. Hal demikian tidak akan ditemui pada rasio keuangan perputaran modal kerja.
Keuangan lain dari dimilikinya rasio perputaran modal kerja sebagai tolok ukur likuiditas perusahaan adalah bahwa dalam rasio perputaran modal kerja yang optimal, didalamnya terdapat unsur – unsur sebagai berikut :
a. Batas kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan hutang jangka pendek perusahaan sudah masuk perhitungan.
b. Batas kemampuan aktiva lancar dalam melayani kegiatan perusahaan sehari – hari, juga sudah masuk perhitungan.
c. Angka perputaran modal kerja mempunyai sifatbebas dan fluktuasi musiman dan hal – hal lain terjadi secara kebetulan.
Angka peputaran modal kerja yang ideal adalah yang paling tinggi optimalnya. Nilai optimal perputaran modal kerja bidang usaha yang satu beda dengan nilai optimal perputaran modal kerja untuk bidang usaha yang lain. Begitu juga antar perusahaan, berbeda juga nilai optimalnya, walaupun bidang usahanya sama. Beda kebijakan persediaan, beda kebijakan penjualan, beda lokasi, beda bentuk yuridis badan dan sebagainya ikut menentukan panjang atau pendeknya angka perputaran modal kerja yang optimal.
Angka perputaran modal kerja yang terlalu jauh dari nilai optimalnya adalah tidak baik. Angka perputaran modal kerja yang terlalu jauh diatas nilai optimalnya, dapat terjadi sebagai akibat terlalu kecilnya modal kerja perusahaan. Kekurangan bayaran atas hutang perusahaan dapat terjadi. Jika rasio lancar dipandang bias diturunkan, memang aktiva lancar perusahaan masih bisa diperbesar jumlahnya dengan menggunakan sumber pembiayaan kredit jangka pendek. Dengan bertambahnya hutang lancar, sekalipun dibarengi dengan meningkatnya aktiva lancar, akan mengakibatkan menurunnya rasio lancar menuju kearah minimumnya.
Apabila seluruh potensi pemanfaatan kredit spontan sudah digunakan, berarti kapasitas keuangan jangka pendek perusahaan sudah sepenuhnya digunakan. Kelebihan permintaan akan hasil produksi perusahaan terpaksa ditolak, karena perusahaan tidak dapat melayaninya.

Istilah Dasar Data Keuangan

1. Working Kerja atau Working Capital
• Yaitu hasil pengurangan nilai pasiva lancer terhadap nilai aktiva lancar. Ungkapan lebih singkat :
Modal kerja = aktiva lancar – pasiva lancar.
• Modal kerja dalam artian sama dengan jumlah keseluruhan aktiva lancar atau current assets.
2. Aktiva Liquid atau Quikck Assets
Aktiva yang tercakup dalam aktiva likuid :
• Uang tunai atau cash on hand
• Uang kas di bank atau cash in bank
• Surat-surat berharga yang mudah penjualannya, yang disebut temporary investment atau marketable securities
• Piutang dagang (netto) atau accounts receivable
• Wesel tagih atau notes receivable
3. Aktiva Berwujud atau Tangible Assets
Nilai total aktiva berwujud dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :
Aktiva berwujud = aktiva total – aktiva tak berwujud.
4. Aktiva Operasional atau Operating Assets
Aktiva-aktiva tertentu misalnya investasi permanen, aktiva tak berwujud dan sebagainya tidak langsung menentukan besarnya kapasitas perusahaan, maka digunakanlah pengertian aktiva operasional, yang merupakan istilah alih bahasa dari kata operating asset. Adapun rumusnya ialah :
Operating asssets = total current assets + total plant and equipment.
5. Operating Fixed Assets
Rumus untuk menemukan besarnya nilai operating fixed assets adalah :
Operating fixed assets = total operating assets – total current assets.
6. Modal Sendiri atau Net Worth
Net worth atau owner’s equity, modal sendiri neto perusahaan besarnya sama dengan nilai aktiva total dikurang nilai pasiva total. Dengan ungkapan lain :
Modal sendiri = aktiva total – hutang total.
7. Tangible Net Worth
Nilai tangible net worth perusahaan dapat dihitung dengan rumus :
Tangible net worth = net worth – intangible assets atau tangible net worth = tangible assets – total liabilities.
8. Average atau Angka Rata – Rata
Dalam menghitung rasio keuangan,banyak rumus – rumus yang di dalamnya terdapat unsur besaran statistik average atau rata – rata, misalnya average net worth dan sebagainya. Yang dimaksud dengan average angka rata – rata dalam arti arithmatic mean. Perumusan average yang banyak dipakai dalam menghitung rasio keuangan adalah :
Average = (angka awal tahun + angka akhir tahun) / 2

Neraca Lajur

Neraca lajur atau yang sering disebut worksheet diartikan sebagai daftar bekolom dimana data neraca sisa atau trial balance bersama-sama dengan data ayat-ayat penyesuaian atau adjustment dan data-data lainnya yang dibutuhkan dalam penyusunan laporan keuangan dikumpulkan, digolongkan dan diikhtisarkan.
Pada semua neraca lajur, kolom paling kiri disiapkan untuk diisi dengan nomor-nomor folio buku besar dari masing-masing perkiraan. Kolom selanjutnya disiapkan untuk menyebutkan nama-nama perkiraan buku besar. Kolom-kolom yang terdapat pada neraca lajur dibuat berpasang-pasangan, untuk tiap pasang lajur terdiri dari lajur debit dan lajur kredit.
Neraca lajur berkolom sepuluh digunakan untuk penyusunan laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan rugi laba, dimana pasangan lajur ke 7 dan ke 8 digunakan sebagai lajur rugi laba, dan pasangan lajur ke 9 dan ke 10 digunakan sebagai lajur neraca.
Sedangkan neraca lajur berkolom dua belas atau twelve-column worksheet digunakan jika kita menghendaki untuk menyusun neraca dan laporan rugi laba juga sekaligus menyusun laporan laba ditahan, dimana pasangan lajur ke 7 dan ke 8 sebagai lajur laporan rugi laba, pasangan lajur ke 9 dan ke 10 digunakan sebagai lajur laporan laba ditahan, dan pasangan lajur ke 11 dan ke 12 digunakan sebagai lajur neraca.
Baik neraca lajur berkolom sepuluh maupun berkolom dua belas, pemakain lajur ke 1 sampai lajur ke 6 adalah sama, yaitu pasangan lajur ke 1 dan ke 2 digunakan sebagai lajur-lajur nraca sisa, pasangan lajur ke 3 dan ke 4 digunakan untuk menampung ayat-ayat penyesuaian, dan pasangan lajur ke 5 dan ke 6 digunakan sebagai lajur neraca sisa sesudah ayat-ayat penyesuaian atau adjusted trial balance.
Cara Mengisi Kolom Neraca Lajur
a. Kolom Folio : Pada lajur ini ditulis nomor folio buku besar dari msing-masing perkiraan bersangkutan.
b. Kolom Perkiraan : Ke dalam lajur ini ditulis nama perkiraan bersangkutan. Adapun istilah lain yang maknanya sama dengan perkiraan adalah rekening buku besar atau account.
c. Kolom Trial Balance atau Kolom Neraca Sisa : Ke dalam kolom ini ditulis angka-angka saldo yang terdapat pada perkiraan-perkiraan bersangkutan dalam buku besar. Saldo debit perkiraan diisikan ke dalam kolom kredit neraca lajur.
Berdasarkan buku-buku terbitan dalam negeri, cara penyusunan neraca sisa dengan melalui neraca percobaan, yaitu buku besar → neraca percobaan → neraca sisa. Berbeda dengan buku-buku terbitan luar negeri dimana buku besar langsung ke neraca sisa. Untuk neraca percobaan kolom debit setiap rekening diisi dengan nilai total debit rekening bersangkutan. Demikian juga untuk kolom kreditnya diisi dengan menggunakan hasil penjumlahan semua nilai di sebelah kredit totalnya, maka saldonya, yang kita sebut saldo debit atau debit balance, dicatat pada kolom debit nerca sisa.
Baik untuk neraca sisa maupun neraca percobaan, hasil penjumlahan debit dan kreditnya harus sama. Apabila tidak sama, maka dapat dipastikan ada kesalahan. Kesalahan tersebut dapat sebagai akibat kesalahan dalam memindahkan angka dari rekening-rekening buku besar ke rekening lajur, dan dapat pula sebagai akibat kesalahan pada saat melaksanakan posting ke buku besar.
d. Kolom Adjustment atau Kolom Ayat-ayat Penyesuaian : Apabila neraca lajur sekedar digunakan untuk menyusun laporan keuangan, dan bukan untuk mengadakan penutupan buku besar, adjustment tersebut tidak perlu dijurnal. Sedangkan pada penyusunan neraca lajur yang dilakukan pada saat penutupan buku, adjustment tehadap trial balance perlu dijurnal dan dibukukan ke dalam buku besar.
e. Kolom Adjusted Trial Balance atau Kolom Neraca Sisa Sesudah : Angka yang diisikan ke dalam kolom ini diambilkan dari kolom trial balance dan dari kolom adjustment. Saldo debit pada bagian pasangan kolom tersebut dimasukkan ke dalam kolom adjusted trial balance sebelah debit. Sebaliknya apabila pada kolom tersebut menghasilkan saldo kredit, maka saldo tersebut dimasukkan ke dalam kolom adjusted trial balance sebelah kredit.
f. Kolom Rugi Laba atau Kolom Income Statement : Semua angka yang terdapat pada kolom adjusted trial balance dari perkiraan-perkiraan yang termasuk kategori nominal account dipindahkan ke kolom rugi laba sebelah debit, dan saldo kredit nominal account dipindahkan ke sebelah kredit rugi laba.
Langkah selanjutnya ialah menjumlahkan semua angka-angka yang terdapat pada kolom tersebut, hingga dihasilkan jumlah keseluruhan kolom kredit pada kolom rugi laba. Apabila hasil penjumlahan disebelah debit lebih kecil daripada sebelah kredit, maka selisihnya merupakan laba yang diperoleh perusahaan. Sebaliknya apabila hasil penjumlahan disebelah debit lebih besar daripada sebelah kredit, maka selisihnya merupakan rugi perusahaan.
Jika diinginkan untuk sekaligus memperhitungkan pajak penghasilan yang dibebankan ke perusahaan, maka sebelum dicatat sebagai penyeimbang antara debit dan kredit kolom rugi laba, angka keuntungan tersebut terlebih dahulu dipecah menjadi dua, yaitu yang satu menunjukan besarnya beban pajak penghasilan yang diperkirakan, dan yang satu lagi, yaitu yang nilainya merupakan kelebihan keuntungan setelah dikurangi beban pajak penghasilan yang diperkirakan, merupakan keuntungan bersih sesudah pajak penghasilan. Angka yang disebutkan pertamatersebut, dengan menggunakan perkiraan baru “perkiraan pajak penghasilan”, pada kolom rugi laba di catat disebelah debit, sedangkan pada kolom neraca disebelah kredit. Angka yang diseutkan terakhir, dengan menggunakan perkiraan baru dengan nama “laba bersih sesudah pajak penghasilan”. Pada kolom RUGI LABA dicatat disebelah debit sedangkan pada kolom LABA DITAHAN dengan nilai yang sama dicatat disebelah kredit.
g. Kolom Laba Ditahan : Pada umumnya terdiri dari 4 besaran, yaitu :
1. Laba Bersih → Saat mengisi kolom debit rugi laba dengan laba bersih atau kolom kredit rugi laba dengan rugi bersih, kolom ditahan diisi dengan angka tersebut pada bagian yang berlawanan.
2. Dividen Yang Dibagikan → Pada kolom laba ditahan angka tersebut dicatat dengan jumlah yang sama dan juga pada sisi yang sama dengan angka yang terdapat pada adjusted trial balance.
3. Laba Ditahan Awal Tahun → Angka laba ditahan awal tahun dicatat pada kolom laba ditahan dengan angka dan juga pada sisi yang sama seperti yang terdapat pada adjusted trial balance.
4. Laba Ditahan Akhir Tahun → Setelah ketiga angka diatas dicatat pada kolom laba ditahan, maka angka-angka disebelah debit di jumlah. Apabila subtotal sebelah debit lebih kecil dari kredit, maka disebelah debit pada rekening baru yang kita buka dengan sebutan laba ditahan akhir tahun kita debit dengan angka yang menyeimbangkan jumlah bagian debit dengan jumlah bagian kredit kolom laba ditahan. Angka inilah yang menunjukan besarnya laba ditahan akhir tahun.
h. Kolom Neraca : Saat mendebit kolom laba ditahan dengan angka yang menunjukan besarnya laba ditahan akhir tahun, pada baris yang sama angka tersebut kita catat juga pada kolom neraca, hanya saja pada sisi yang berlawanan.

Modal Kerja dan Analisis Perubahan Pendapatan

Analisis Sumber dan Pengunaan Modal Kerja
Modal kerja adalah jumlah dana yang digunakan selama periode akuntansi yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan jangka pendek / Current Income yang sesuai dengan maksud utama didirikannya perusahaan tersebut. Definisi ini berdasarkan konsep fungsional yaitu fungsi dana tersebut dalam menghasilkan pendapatan.

Modal kerja menurut jenisnya dapat dibedakan menjadi dua golongan :
• Bagian modal kerja yang realatif permanen
Yaitu jumlah modal kerja minimal yang harus tetap ada dalam perusahaan untuk dapat melaksanakan operasinya atau sejumlah modal kerja yang secara terus-menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
Modal kerja permanen ini dapat dibedakan dalam:
1. Modal kerja primer
Yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitasi usahanya.
2. Modal kerja normal
Yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.
b. Bagian modal kerja yang bersifat variable
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah tergantung pada perubahan keadaan.
Modal kerja variabel ini dapat dibedakan dalam:
1. Modal kerja musiman
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan dan fluktuasi musim.
1. Modal kerja siklis
Yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah disebabkan oleh fluktuasi konjungtur.
2. Modal kerja darurat
Yaitu modal kerja yang jumlahya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat atau mendadak yang tidak dapat diketahui atau diramalkan terlebih dahulu.
Modal kerja dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu :
• Pendapatan bersih
• Keuntungan dari penjualan surat – surat berharga
• Penjualan aktiva tetap, investasi jangka panjang, dan aktiva tidak lancar lainnya
• Penjualan obligasi dan saham serta kontribusi dana dari pemilik
• Dana pinjaman dari bank dan pinjaman jangka pendek lainnya
• Kredit dari supplier atau trade creditor

Manfaat tersedianya modal kerja yang cukup adalah sebagai berikut:

• Memungkinkan perusahaan untuk beroperasi secara ekonomis dan tidak megalami kesulitan keuangan

• Melindungi perusahaan dari akibat buruk berupa turunnya nilai aktiva lancar, seperti adanya kerugian karena debitur tidak membayar, turunnya nilai persediaan karena harganya merosot

• Memungkinkan perusahaan untuk melunasi kewajiban-kewajiban jangka pendek tepat pada waktunya

• Memungkinkan perusahaan untuk dapat membeli barang dengan tunai sehingga dapat mendapatkan keuntungan berupa potongan harga

• Menjamin perusahaan memiliki credit standing dan dapat mengatasi peristiwa yang tidak dapat diduga seperti kebakaran, pencurian, dan sebagainya

• Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup guna melayani permintaan konsumennya

• Memungkinkan perusahaan dapat memberikan syarat kredit yang menguntungkan kepada pelanggan

• Memungkinkan perusahaan dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan dalam memperoleh bahan baku, jasa, dan suplai yang dibutuhkan

• Memungkinkan perusahaan mampu bertahan dalam periode resesi atau depresi

Modal kerja yang berlebihan atau modal yang kekurangan merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi perusahaan.

Penyebab timbulnya kelebihan modal kerja adalah :
• Pengeluaran saham dan obligasi yang melebihi dari jumlah yang diperlukan
• Penjualan aktiva tetap tanpa diikuti penempatan kembali
• Pendapatan atau keuntungan yang diperoleh tidak digunakan untuk membayar dividen, membeli aktiva tetap, atau maksud-maksud lainnya
• Konversi operating asset menjadi modal kerja melalui proses penyusutan, tetapi tidak diikuti dengan penempatan kembali
• Akumulasi dana sementara mennunggu investasi, ekspansi, dll

Penyebab timbulnya kekurangan modal kerja adalah :
• Adanya kerugian usaha.
Penyebab adanya kerugian usaha yaitu :
a. Volume penjualan yang tidak efisien relative dibandingkan dengan harga pokok penjualan
b. Tekanan terhadap harga jual akibat ketatnya persaingan tanpa diikuti penurunan harga pokok penjualandan biaya usaha
c. Banyaknya kerugian karena adanya piutang yang tidak kembali
d. Kenaikan biaya tanpa diikuti kenaikan penjualan atau penghasilan
e. Biaya naik sementara penjualan menurun
• Adanya kerugian insidensil seperti turunnya harga pasar dan persediaan barang, karena pencurian, kebakaran, dll yang tidak ditutup dengan asuransi
• Kegagalan mendapatkan tambahan modal kerja pada waktu mengadakan perluasan usaha atau ekspansi seperti perluasan daerah penjualan, penjualan produk baru, penerapan metode produksi baru strategi penjualan baru, dan sbg
• Menggunakan modal kerja untuk aktiva tidak lancar seperti membali aktiva tetap baru, membeli saham dari perusahaan lain / investasi jangka panjang
• Kebijaksanaan pembayaran dividen yang tidak tepat
• Kenaikan tingkat harga
• Pelunasan utang yang sudah jauh tempo

Faktor – faktor yang mempengaruhi jumlah modal kerja :
• Sifat umum atau tipe perusahaan.
Modal kerja yang dibutuhkan perusahaan jasa relatif rendah karena investasi dalam persediaan dan piutang pencairannya menjadikan relatif cepat. Berbeda dengan perusahaan industri, investasi dalam aktiva lancar cukup besar dengan tingkat perputaran persediaan dan piutang yang relatif rendah.
• Waktu yang diperlukan untuk memproduksi atau mendapatkan barang dan ongkos produksi per unit atau harga beli per unit barang.
Makin panjang waktu yang diperlukan untuk memproduksi barang atau untuk memperoleh barang makin besar kebutuhan akan modal kerja.
• Syarat pembelian dan penjualan.
Syarat kredit pembelian barang dagangan atau bahan baku akan mempengaruhi besar kecilnya modal kerja. Syarat kredit pembelian yang menguntungkan akan memperkecil kebutuhan uang kas yang harus ditanamkan dalam persediaan, sebaliknya bila pembayaran harus dilakukan segera setelah barang diterima maka kebutuhan uang kas untuk membelanjai volume perdagangan menjadi lebih besar.
• Tingkat perputaran persediaan.
Semakin sering persediaan diganti (dibeli dan dijual kembali) maka kebutuhan modal kerja yang ditanamkan dalam bentuk persediaan (barang) akan semakin rendah.
• Tingkat perputaran piutang.
Apabila piutang terkumpul dalam waktu pendek berarti kebutuhan akan modal kerja menjadi semakin rendah.
• Pengaruh konjungtur.
Pada periode makmur aktivitas perusahaan meningkat dan perusahaan cenderung membeli barang lebih memanfaatkan harga yang masih rendah. Ini berarti perusahaan memperbesar tingkat persediaan.
• Derajat risiko kemungkinan menurunya harga jual aktiva jangka pendek menurunya nilai riil dibanding dengan harga buku dari surat-surat berharga, persediaan barang, dan piutang akan menurunkan modal kerja. Apabila risiko kerugian ini semakin besar berarti diperlukan tambahan modal kerja untuk membayar bunga atau melunasi utang jangka pendek yang sudah jatuh tempo.
• Pengaruh musim.
Perusahaan yang di pengaruhi oleh musim membutuhkan jumlah maksimum modal kerja untuk periode yang relatif pendek.
• Credit rating dari perusahaan
Jumlah modal kerja, dalam bentuk kas termasuk surat-surat berharga, yang dibutuhkan perusahaan untuk membiayai opersinya tergantung pada kebijaksanaan penyediaan uang kas.

Penggunaan modal kerja yang mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar adalah sbb :
• Pengeluaran biaya jangka pendek dan pembayaran utang-utang jangka pendek
• Adanya pemakaian prive yang berasal dari keuntungan
• Kerugian usaha yang memerlukan pengeluaran kas
• Pembentukan dana untuk tujuan tertentu seperti dana pensiun pegawai, pembayaran bunga obligasi yang telah jatuh tempo, penempatan kembali aktiva tidak lancar
• Pembelian tambahan aktiva tetap, aktiva tidak berwujud, dan investasi jangka panjang
• Pembayaran utang jangka panjang dan pembelian kembali saham perusahaan

Langkah-langkah penyusunan laporan sumber dan penggunaan modal kerja adalah sebagai berikut:
• Laporan sumber dan penggunaan modal kerja disusun berdasarkan data neraca yang diperbandingkan dan informasi yang berkenaan dengan perubahan semua rekening tidak lancar dan pos-pos modal sendiri.
• Berdasarkan data neraca yang dperbandingkan dapat diketahui perubahan neto untuk masing-masing rekening neraca yaitu adanya kenaikan atau penurunan modal kerja beserta besarnya perubahan modal kerja.Kenakan dalam saldo rekening aktiva, penurunan dalam saldo rekening utang dan penurunan modal dalam saldo rekening modal ditunjukkan dalam kolom debet, sedang penurunan dalam saldo rekening aktiva, kenaikan dalam saldo rekening utang dan kenaikan saldo rekening modal dicantumkan dalam kolom kredit.
• Perubahan saldo rekening-rekening tersebut kemudian ditarik kedalam dua kolom terakhir. Jumlah debet dari aktva tidak lancar, utang tidak lancar (utang jangka panjang) atau rekening modal pada kolom perubahan neto kemudian ditarik ke dalam kolom rekening, atau rekening modal (pada kolom perubahan neto) kemudian ditarik ke dalam kolom sumber dana.
• Jumlah debet dalam aktiva lancar dan utang jangka pendek ditarik ke dalam kolom kenaikan modal kerja, sedangkan jumlah kredit kolom aktiva lancar dan utang jangka pendek ditark ke dalam kolom penurunan modal kerja. Apabila dana (modal kerja) yang diperoleh dari perubahan dalam pos-pos tidak lancar dan modal melebihi dana (modal kerja) yang digunakan untuk pos-pos tidak lancar dan modal maka modal kerja berarti bertambah (meningkat) besar selsihnya. Sebaliknya apabila dana yang digunakan atau dipakai melebihi dana yang diperoleh berarti modal kerja menurun sebesar perbedaannya. Saldo pada dua pasang kolom terakhir meringkas pengaruh bersih dari aktivitas perusahaan terhadap besarnya modal kerja.

Analisis Perubahan Pendapatan

Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi (selama periode) yang timbul dalam rangka kegiatan usaha dari suatu badan bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain yang berkaitan dengan meningkatkan kontribusi dari ekuitas peserta.

Sumber pendapatan :
• Transaksi modal atau pendanaan yang mengakibatkan adanya tambahan dana yang ditanamkan oleh pemegang obligasi dan pemegang saham.
• Laba dari penjualan aktiva yang bukan berupa produk perusahaan seperti aktiva tetap, surat berharga atau penjualan anak/cabang perusahaan.
• Hadiah , sumbangan atau penemuan.
• Revaluasi aktiva.
• Penyerahan produk perusahaan, yaitu aliran hasil penjualan produk.

Proses terbentuk dan terealisasinya pendapatan :
• Earning Process / proses pembentukan pendapatan. Pendapatan dianggap terbentuk bersamaan dengan seluruh proses berlangsungnya operasi perusahaan (produksi, penjualan dan pengumpulan piutang).
• Realization Process / proses realisasi pendapatan. Pendapatan dianggap terbentuk setelah produk selesai dikerjakan dan terjual langsung / atas dasar kontrak penjualan.

Pengukuran Pendapatan
Pendapatan diukur dengan nilai wajar yang dapat diterima, jumlah pendapatan biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli yang diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah discount dagang dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan, umumnya berbentuk kas atau setara kas. Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima.
Bila barang atau jasa dipertukarkan untuk barang atau jasa dengan sifat nilai yang sama maka pertukaran tidak dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Dan bila barang dijual atau jasa diberikan untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa yang tidak serupa pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan.
Pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer.

Karakteristuk Pendapatan
Pendapatan dapat ditinjau dari dua aspek :
• Aspek fisik
Pendapatan adalah hasil akhir suatu aliran fisik dalam proses menghasilkan laba
• Aspek moneter
Pendapatan adalah aliran masuk aktiva yang berasal dari kegiatan operasi perusahaan dalam arti luas.

Ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi Laba Bersih atau Pendapatan :
• Volume produk yang dijual
• Harga jual produk
• Biaya produksi
Masalah pengukuran pendapatan
Pengukuran akuntansi haruslah diarahkan ke penyajian informasi yang relevan untuk penggunaan yang ditetapkan. Pembatasan data yang tersedia dan ciri-ciri tertentu dari lingkungan membatasi keakuratan dan keterandalan pengukuran. Oleh sebab itu keterbatasan ini harus dikemukakan secara eksplisit dan dipertimbangkan dalam pengembangan prinsip serta prosedur akuntansi, karena kendala-kendala ini tidak dapat dibuang oleh lingkungan atau kurangnya alat pengukur memadai. Nilai tukar produk atau jasa sebagai hasil penjualan perusahaan merupakan ukuran terbaik dan paling objektif bagi pendapatan. Penentuan satuan ukur untuk pendapatan secara umum dinyatakan dengan jumlah uang atau unit moneter. Penentuan ini menimbulkan masalah, oleh sebab itu adanya penurunan atau kenaikan daya beli umum sepanjang waktu. Keterbatasan pengukuran pendapatan dapat timbul karena data akuntansi disajikan berdasarkan asumsi bahwa data itu relevan. Meramalkan pada masa yang akan datang pada umumnya tidak pasti, maka sulit menetapkan pengukuran yang relevan untuk tujuan ini. Namun, ketidakmampuan untuk membuat pengukuran pendapatan yang terandal dan atribut khusus yang dianggap relevan dapat juga disebab oleh kurangnya teknik pengukuran yang terandal dan ketidakmampuan untuk menemukan prosedur pengukuran pendapatan yang menjelaskan secara layak atribut yang sedang diukur.
Masalah pengakuan pendapatan
Pada penjelasan sebelumnya konsep pendapatan hingga saat ini sulit dirumuskan oleh para ahli ekonomi maupun akuntansi, hal ini disebabkan pendapatan menyangkut prosedur tertentu, perubahan nilai tertentu dan waktu pendapatan harus dilaporkan.
Didalam definisi pendapatan sebagai produk perusahaan dalam mengukur dan melaporkan pendapatan masih menghadapi masalah. Suatu alternatif pengakuan pendapatan pada waktu penyelesaian kegiatan utama ekonomi adalah konsep pelaporan pendapatan berdasarkan kejadian kritis atau yang paling menentukan, dengan kata lain sebagian pendapatan diakui kemudian jika fungsi atau kegiatan ekonomi tambahan akan terjadi kemudian.

Analisis Laporan Keuangan

Arti Penting Laporan Keuangan
Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengetahui tingkat profitabilitas atau keuntungan dan tingkat risiko atau tingkat kesehatan suatu perusahaan. Analisis keuangan yang mencakup analisis rasio keuangan, analisis kelemahan dan kekuatan di bidang finansial akan sangat membantu dalam menilai prestasi manajemen masa lalu dan prospeknya di masa datang.
Laporan keuangan yang disusun secara baik dan akurat dapat memberikan gambaran keadaan yang nyata mengenai hasil atau prestasi yang telah dicapai oleh suatu perusahaan selama kurun waktu tertentu, keadaan inilah yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan.Informasi mengenai kinerja keuangan suatu perusahaan sangat bermanfaat untuk berbagai pihak, seperti investor, kreditur, pemerintah, bankers, pihak manajemen sendiri dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Arti penting analisis laporan keuangan adalah :
1. Bagi pihak manajemen
Untuk mengevaluasi kinerja perusahaan, kompensasi, dan pengembangan karier
2. Bagi pemegang saham
Untuk mengetahui kinerja perusahaan, pendapatan, dan keamanan investasi
3. Bagi kreditor
Untuk mengetahui kemampuan perusahaan melunasi utang beserta bunganya
4. Bagi pemerintah
Untk kepentingan pajak, dan persetujuan untuk go public
5. Bagi karyawan
Penghasilan yang memadai, kualitas hidup, keamanan kerja
Pengertian Laporan Keuangan
Laporan keuangan adalah ringkasan dari proses akutansi selama tahun buku yang bersangkutan yang digunakan sebagai alat untuk berkomunikasiantara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap data atau aktivitas perusahaan tersebut.
Pada umumnya laporan keuangan terdiri dari neraca dan perhitungan rugi laba serta laporan perubahan modal, dimana neraca menggambarkan jumlah aktiva, hutang dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu, sedangkan laporan rugi laba memperlihatkan hasil- hasil yang telah dicapai oleh perusahaan serta biaya yang terjadi selama periode tertentu dan laporan perubahan modal menunjukan sumber dan penggunaan atau alasan-alasan yang menyebabkan perubahan modal perusahaan.
Selain diatas laporan keuangan juga sering mengikut sertakan laporan lain yang sifatnya membantu untuk memperoleh keterangan lebih lanjut, diantara laporan tersebut adalah laporan perubahan modal kerja, laporan sumber dan penggunaan kas (laporan arus kas), laporan sebab-sebab perubahan laba kotor, laporan biaya produksi serta daftar-daftar lainnya.

Syarat Laporan Keuangan
1. Relevan, bahwa informasi yang dijadikan harus ada hubungan dengan pihak-pihak yang memerlukan untuk mengambil keputusan.
2. Dapat dimengerti, bahwa laporan keuangan yang disusun berdasarkan secara jelas dan mudah difahami oleh para pemakainya.
3. Daya uji, bahwa laporan keuangan yang disusun berdasarkan konsep-konsep dasar akuntansidan prinsip-prinsip akuntansi yang dianut, sehingga dapat diuji kebenarannya oleh pihak lain.
4. Netral, bahwa laporan keuangan yang disajikan bersifat umum, objektif dan tidak memihak pada kepentingan pemakai tertentu.
5. Tepat waktu, bahwa laporan keuangan harus di sajikan tepat pada waktunya
6. Daya banding, bahwa perbandingan laporan keuangan dapat diadakan baik antara laporan perusahaan dalam tahun tertentu dengan tahun sebelumnya atau laporan keuangan perusahaan tertentu dengan perusahaan lain pada tahun yang sama.
7. Lengkap, bahwa laporan keuangan yang disusun harus memenuhi syarat-syarat tersebut diatas dan tidak menyesatkan pembaca.

Keterbatasan Laporan Keuangan
Laporan keuangan mempunyai beberapa keterbatasan antara lain:
1. Laporan keuangan dibuat antara waktu tertentu(interm report) dan bukan merupakan laporan final.
2. Adanya beberapa standar nilai yang bergabung.Beberapa aktiva, biasanya aktiva tetap dilaporkanberdasarkan harga perolehan dikurangi denganakumulasi penghapusannya, karenanya nilai aktivaitu dalam laporan keuangan akan tercantum sebesar nilai bukunya.
3. Adanya pengaruh daya beli uang berubah. Daya beli uang dari hari kehari selalu berubah sesuaidengan kehidupan perekonomian sehari-hari.
4. Adanya faktor-faktor yang tidak dinyatakan dengan uang. Laporan keuangan adalah akumulasi darikejadian-kejadian atau transaksi-transaksiperusahaan yang dapat dinyatakan dengan satuanuang.
5. Laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakanlaporan atas kejadian yang telah lewat, oleh karenaitu laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagaisatu-satunya sumber informasi dalam prosespengambilan keputusan ekonomi.
6. Laporan keuangan bersifat umum dan bukandimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak-pihak tertentu.
7. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luputdari penggunaan taksiran – taksiran dan berbagai pertimbangan.
8. Akuntansi hanya melaporkan informasi yangmaterial.
9. Laporan keuangan bersifat konservatif dalammenghadapi ketidakpastian. Bila terdapat beberapakemungkinan konklusi yang tidak pasti mengenaipenilaian suatu pos, maka lazimnya dipilih alternative yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yangpaling kecil.
10. Laporan keuangan lebih menekankan pada maknaekonomi suatu peristiwa / transaksi dari pada bentukhukumnya (formalitas).
11. Laporan keuangan di susun dengan istlah-istilahteknis.
12. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalampengukuran sumber-sumber ekonomi dan tingkatkesuksesan antar perusahaan.
13. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yangtidak dikuantifikasikan umumnya diabaikan.
14. Nilai yang tercantum dineraca hanyalah nilai padasuatu saat tertentu saja.
15. Analisis harus menyadari kemungkinan adanyasuatu window dressing.
16. Nilai beli rupiah makin lemah.

Kebaikan Laporan Keuangan
Laporan keuangan digunakan untuk menyajikan posisi keuangan suatu perusahaan untuk mengambil keputusan ekonomi yang diperlukan dan bermanfaat bagi sejumlah pemakai.

Peranan Pemeriksa Laporan Keuangan / Auditor
a. Peran Sebagai Pemecah Masalah
Temuan audit pada hakikatnya adalah masalah. Auditor intern harus mampu menggunakan metode pemecahan masalah (problem solving) yang rasional.
b. Temuan yang ada dari pelaksanaan audit bisa menjurus pada timbulnya konflik bila seorang auditor kurang mampu menyelesaikannya dengan auditee.
Dalam praktiknya konflik ini bisa dilalui dengan jalan :
1. Dihindari :Auditor yang suka menghindari konflik cenderung mereka reaksi emosional dengan mencari cara yang lebih aman minta dipindahkan atau bahkan keluar dari pekerjannya.
2. Dibekukan : Membekukan konflik adalah taktik untuk menangguhkan tindakan.
3. Dikonfrontasikan :Masalah atau temuan bisa langsung dikonfrontasikan dengan auditee.
Konfrontasi bisa dilakukan dengan dua jalan yaitu :
– Dengan memakai kekerasan, misalnya dengan kekuasaan direktur utama auditee dipaksa melaksanakan rekomendasi audit.
– Dengan memakai strategi negoisasi, dengan strategi ini kedua pihak bias menang.
c. Peran pewawancara
Komunikasi yang akan dilakukan oleh auditor seringkali berbentuk wawancara. Tujuannya adalah mencari fakta dan bukan opini.
d. Peran “negosiator” dan “komunikator”
Kedua peran ini juga dijumpai pada saat melakukan auditing. Mungkin peran komunikator akan lebih menonjol dibanding dengan negosiator. Sebagai komunikator, posisi auditor agak berbeda meskipun komunikasi bukan hal yang baru bagi auditor mewujudkan komunikasi yang efektif bukanlah hal yang mudah.

Dengan demikian, keempat peran diatas perlu dipahami karena bisa jadi auditor membutuhkan langkah-langkah khusus ketika berhadapan dengan manajemen.Selain itu, auditor harus mengembangkan hubungan antar manusia yang baik.Dalam hal ini, peran kepribadian auditor menjadi sangat menentukan.

Tujuan Laporan Keuangan
Menurut PSAK (2004), tujuan laporan keuangan untuk tujuan umum adalahmenyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi serta menunjukkan kinerja yang telah dilakukan manajemen (stewardship) atau pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipercayakan kepadanya.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut suatu laporan keuangan menyajikan informasi mengenai perusahaan meliputi:
1. Aktiva
2. Kewajiban
3. Ekuitas
4. Pendapatan dan beban termasuk keuntungan
5. Arus kas
Informasi tersebut di atas beserta informasi lain yang terdapat dalam catatan laporan keuangan membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan khusus dalam hal waktu dan kepastian diperoleh kas dan setara kas.
Tujuan laporan keuangan menurut A Statement of Basic Accounting Theory (ASOBAT) dalam Sofyan Syafri Harahap (2000 : 6), merumuskan empat tujuan laporan keuangan sebagai berikut :
1. Membuat keputusan yang menyangkut penggunaan kekayaan yang terbatas dan untuk menetapkan tujuan.
2. Mengarahkan dan mengontrol secara efektif sumber daya manusia dan faktor produksi lainnya.
3. Memelihara dan melaporkan pengamanan terhadap kekayaan.
4. Membantu fungsi dan pengawasan sosial.
Menurut APB Statement No.4 dalam Sofyan Syafri Harahap (2000 : 99), menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah untuk menyajikan posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar sesuai dengan GAAP (General Accepted Accounting Principle).
2. Tujuan Umum
a. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi, dan kewajiban perusahaan dengan maksud :
– Untuk menilai kekuatan dan kelemahan perusahaan.
– Untuk menunjukkan posisi keuangan dan investasinya.
– Untuk menilai kemampuan perusahaan untuk menyelesaikan hutang-hutangnya.
– Menunjukkan kemampuan sumber-sumber kekayaannya yang ada untuk pertumbuhan perusahaan.
b. Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba dengan maksud :
– Memberikan gambaran tentang deviden yang diharapkan pemegang saham.
– Menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar kewajiban kepadakreditur, supplier, pegawai, pajak, pengumpulan dana untuk pelunasan.
– Memberikan informasi kepada manajemen untuk digunakan dalam pelaksanaan fungsi perencanaan dan pengawasan.
– Menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan mendapatkan laba dalam jangka panjang.
c. Memberikan informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksirkan potensi perusahaan dalam menghasilkan laba.
d. Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban.
e. Mengungkapkan informasi relevan lainnya yang dibutuhkan para pemakai laporan keuangan.
3. Tujuan Kualitatif
Adapun tujuan kualitatif dari laporan keuangan yaitu sebagai berikut :
a. Relevance yaitu memilih informasi yang benar-benar dapat membantu pemakai laporan dalam proses pengambilan keputusan.
b. Understandability yaitu informasi yang dipilih untuk disajikan bukan saja penting tetapi juga harus dimengerti oleh para pemakainya.
c. Verifiability yaitu hasil akuntansi itu harus dapat diperiksa oleh pihak lain akan menghasilkan pendapatan yang sama.
d. Neutrality yaitu laporan akuntansi itu harus netral terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi dimaksudkan untuk pihak umum bukan pihak-pihak tertentu saja.
e. Timelines yaitu laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilan keputusan apabila diserahkan pada saat yang sama.
f. Comparability yaitu informasi akuntansi harus dapat saling dibandingkan artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan lain.
g. Completeness yaitu informasi akuntansi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan yang layak dari pemakai.

Prosedur Analisa Laporan Keuangan
Sebelum menganalisa terhadap suatu laporan keuangan, hal – hal yang perlu diperhatikan oleh penganalisa adalah :
– Benar – benar memahami laporan keuangan tersebut.
– Dapat menggambarkan aktivitas – aktivitas perusahaan yang tercermin dalam laporan keuangan tersebut.
– Mengetahui latar belakang dari data keuangan tersebut.
– Mempunyai kemampuan atau kebijaksanaan yang cukup dalam di dalam mengambil suatu kesimpulan.
Metode Analisa Laporan Keuangan yang dibandingkan
Analisa terhadap laporan keuangan dimaksudkan agar data keuangan tersebut dapat lebih berarti dalam mendukung keputusan yang akan diambil baik oleh manajemen maupun pihak ekstern yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan untuk dapat mengetahui teknik analisa laporan keuangan, maka seorang analis harus menguasai tentang:
a. Proses penyusunan laporan keuangan
b. Konsep, sifat dan karakteristik laporan keuangan
c. Teknik analisa laporan keuangan
d. Segment dan lingkungan bisnis yang akan dianalisa

Analisa perbandingan merupakan metode analisa terhadap laporan keuangan dengan cara memperbandingkan untuk dua periode atau lebih, atau memperbandingkan laporan keuangan suatu perusahaan dengan perusahaan lain.Tetapi pada umumnya dilakukan untuk beberapa periode dari suatu perusahaan sehingga dapat diketahui sifat dan tendensi perubahan yang terjadi dalam perusahaan tersebut, misalnya :
a. Laba/rugi yang sifatnya operasional maupun insidentil
b. Diperoleh aktiva baru/perubahan bentuk aktiva
c. Timbul/lunas/perubahan bentuk hutang
d. Penambahan/pengurangan modal dan lain-lain.

Bentuk-Bentuk Laporan Keuangan yang Diakui PAI
Neraca (Balanced) yaitu laporan secara sistematis yang menggambarkan posisi keuangan dari suatu perusahaan meliputi Assets (harta), Liabilities (hutang) dan Capital (modal). Bentuk neraca harus memenuhi persamaan akuntansi dan umumnya bebentuk:
• Skontro/Horizontal. Dalam bentuk ini aktiva (harta) diletakan disebelah kiri sedangkan passiva (liabities+modal) diletakan disebelah kanan
• Report form/Laporan. Dalam bentuk ini aktiva (harta) diletakan disebelah atas sedangakan passiva (liabities+modal) diletakan disebelah bawah.
Laporan perubahan Modal (Capital Statement) yaitu laporan yang menggambarkan akibat adanya selisih perhasilan dengan biaya dan unsur lainnya misalnya tambahan investasi (additional investment) atau pengambilan (withdrawals).
Laporan Rugi laba (income statement) yaitu laporan sistematis yang menggambarkan selisih penghasilan (reveneus) dengan Biaya (Expenses).

Analisa Trend dan Analisa Persentase Komponen
 Analisa Trend
Disamping analisa perbandingan, suatu teknik analisa yang sering digunakan juga adalah Analisa trend.Analisa trend dalam prosentase (trend percentage analysis) merupakan metode analisa untuk mengetahui tendensi keadaan keuangan perusahaan, yaitu apakah menunjukan tendensi naik, tetap atau menurun.
Syarat-syarat penerapan analisa trend adalah :
a. Prinsip-prinsip akuntansi diterapkan secara konsisten
b. Tidak terjadi perubahan nilai uang secara tajam. Analisis keuangan akan lebih tajam bila data keuangan dibandingkan dengan standar tertentu.
Standar untuk pembandingan data keuangan :
1. Standar internal yang ditetapkan menjamin seperti target yang ditetapkan
2. Perbandingan historis
3. Perbandingan dengan perusahaan atau industri sejenis
Tanpa pembandingan tidak akandiketahui apakah prestasi keuangan suatu perusahaan menunjukkan perbaikan atau sebaliknya menunjukkan penurunan.

 Analisa Commond Size
Analisis Commond Size, untuk membuat perbandingan elemen-elemen laporan keuangan dengan command base-nya. Laporan keuangan neraca pada sisi aktiva didasarkan pada total aktiva sehingga total aktiva sama dengan 100%. Elemen-elemen lain dari aktiva dibandingkan dengan total aktiva. Elemen-elemen kewajiban dan modal sendiri didasarkan pada total kewajiban dan modal sendiri. Laporan laba rugi commond base-nya penjualan, elemen-elemen laporan laba rugi dibandingkan dengan penjualan.

 Analisa Rasio Likiuditas
Yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan untukmemenuhi kewajiban keuangan jangka pendek tepat pada waktunya.
Rasio likuiditasyang umum digunakan antara lain :
a. Current Ratio
Merupakan alat ukur bagi kemampuan likuiditas (solvabilitasjangka pendek) yaitu kemampuan untuk membayar hutang yang segera harusdipenuhi dengan aktiva lancar.
Current Ratio = Current Liabilities
Current Assets
b. Quick Ratio
Merupakan alat ukur bagi kemampuan perusahaan untukmembayar hutang yang segera harus dipenuhi dengan aktiva lancar yang lebihlikuid.
Quick Ratio = Current Assets – Inventory
Current Liabilities

 Analisa Rasio Solvabilitas
Solvabilitas adalah menunjukan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban keuangannya apabila perusahaan tersebut dilikuidasikan baik kewajiban keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.

 Analisa Rasio Profitabilitas
Yaitu rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalammemperoleh keuntungan dari penggunaan modalnya.
Rasio – rasio ini antara lain :
Gross profit margin = Gross Profit
Sales
Operating profit margin = EBIT
Sales
Net profit margin = EAT
Sales
Return on assets = EAT
Total assets
Return on equity = EAT
Equity

 Analisa Rasio Aktivitas
Merupakan alat ukur sejauh mana efektivitas perusahaan dalam menggunakan sumber daya – sumber dayanya.
Rasio – rasio ini antara lain :
a. Receivable Turn Over
Receivable turnover = Sales
Account receivable
b. Periode Pengumpulan Piutang
Average collection period = 360
Receivable turnover
c. Inventory Turnover, yaitu rasio untuk mengukur efisiensi penggunaanpersediaan atau rasio untuk mengukur kemampuan dana yang tertanamdalam persediaan untuk berputar dalam suatu periode tertentu.
Inventory Turnover = Cost of Goods Sold
Average Inventory
Average days in inventory = 360
Inventory turnover
d. Total Assets Turnover, yaitu rasio untuk mengukur efisiensi penggunaanaktiva secara keseluruhan.
Total Assets Turnover = Sales
Total Assets

 Standard Rasio Industri
a. Rasio – rasio neraca ( balance sheet ratios ) yang tergolong dalam katagori ini
adalah semua rasio yang semua datanya diambil atau bersumber pada neraca,
misalnya current ratio, acid test ratio.
b. Rasio – rasio laporan laba rugi ( income statement ratios ) yaitu angka – angka
rasio yang dalam penyusunannya semua datanya diambil dari laporan laba
rugi, misalnya gross profit margin, net operating ratio, dsb.
c. Rasio – rasio anatar laporan ( interstatement ratios ) adalah semua angka rasio
yang penyusunannya data berasal dari neraca dan data lainnya dari laporan
laba rugi, misalnya tingkat perputaran persediaan, tingkat perputaran piutang.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.